Selasa, 02 Agustus 2016

Asal-usul Nama Lumajang –cerita rakyat



Salam X-Kars

Asal-usul Nama Lumajang –cerita rakyat



Radar Besuki
Nama Lamajang atau sebutan kuno untuk Lumajang pertama kali dipakai dalam Prasasti Mula Malurung yang betahun 1177 saka atau 1255 masehi. Dalam prasati ini disebutkan bahwa Nararya Sminingrat telah memerintahkan 6 orang putranya menjadi juru atau raja-raja bawahan, seperti Nararya Murdhaya atau Sri Kertanegara di Daha (Kediri), Nararya Turuk Bali yang memerintah bersama suaminya Jayakatwang di Glang-glang, Nararya Ratnaraja di Morono, Nararya Ranajaya di Hring, Nararya Shabajaya di Lwa, Nararya Kirana di Lamajang, dan Nararya Kulup Kuda di Madura. Prasasti Mula Malurung ini adalah prasasti paling awal dimana nama Lamajang (nama kuno untuk Lumajang) pertama kali dikenal secara resmi. Namun kita tidak mengetahui banyak apa yang terjadi pada masa Nararya Kirana memerintah, karena tidak ada sumber-sumber lain yang mendukungnya. Di samping prasasti ini nama Lamajang disebut juga dalam Babad Pararaton maupun Babad Negarakertagama dimana Lamajang Tigang Juru merupakan wilayah kekuasaan Arya Wiraraja sebagai penasihat utama wangsa rajasa dan pendiri Majapahit.


Selain prasasti ini, nama Lamajang banyak disebut didalam Kitab-kitab kuno seperti Kitab Negara Kertagama maupun Kitab Pararaton. Kedua kitab itu menyebutkan Lamajang (nama untuk Lumajang pada masa kuno) sebagai daerah yang sangat penting mulai dari masa Majapahit awal dan sebagai kedudukan dari Arya Wiraraja yang mendapat bagian tanah Jawa bagian timur dengan nama Lamajang Tigang Juru sampai pada masa Majapahit di zaman Prabu Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Penyebutan Lamajang banyak juga dijumpai didalam kidung-kidung yang ditulis untuk menceritakan kebesaran Majapahit dengan para tokohnya, seperti Kidung Ranggalawe, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama. Sedangkan Babad Tanah Jawi menyebut peranan penting Lamajang yang sudah berganti nama menjadi Lumajang pada abad ke-17.



Menurut tradisi lisan yang berkembang, nama Lamajang mempunyai dua arti mendasar, yaitu bersifat spiritual dan material. Secara spiritual nama Lamajang berarti Luma (rumah) dan Hyang (Dewa) yang berarti rumahnya para Dewa atau rumah yang suci. Di samping itu ada pendapat yang menyatakan bahwa Lamajang berasal dari kata Lemajang atau Lemah (bumi) dan Wejang (ajaran) yang berarti daerah tempat belajar. Kedua pendapat ini mengacu pada asal mula kata Lamajang yang dikaitkan dengan pemukiman untuk pemujaan dan pengajaran yang fungsinya lebih banyak untuk para pendeta. Sedangkan pendapat lain, berkaitan dengan asal-mula kata Lamajang yang berhubungan dengan material yaitu pandangan setiap orang yang melihat daerah sebelah timur Gunung Semeru akan tampak seperti Lumah yang menjadi Ajang atau dengan kata lain seperti tempat nasi. Dalam arti kata ini Lamajang dibayangkan sebagai suatu tempat penghasil padi yang makmur dengan daerah bergununggunung di pinggirnya yang sangat baik untuk pertahanan dan ditengah adalah dataran rendah datar yang sangat baik untuk pertanian. Dari kedua pendapat tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa Lamajang ini adalah suatu daerah yang sangat makmur secara material fisik, namun juga daerah yang suci karena merupakan tempat para Dewa atau para ajar pendeta yang suci.


Disamping itu ada pendapat yang menyatakan nama Lamajang itu dikaitkan dengan nama pohon empon-empon yang sangat berguna bagi pengobatan tradisional dan juga penyedap masakan. Hal ini dapat dibandingkan dengan kota-kota lain pada masa itu seperti Majapahit yang namanya berasal dari buah maja, maupun nama daerah-daerah yang ada di Lumajang sendiri, seperti senduro yang berasal dari nama pohon Sindura, Pajarakan yang berasal dari nama pohon jarak, Pasru Jambe yang berasal dari pohon jambe, Kunir yang merupakan nama pohon kunir yang berguna untuk pengobatan tradisional. Oleh karena itu, Lamajang sendiri diperkirakan dari nama empon-empon atau penyedap rasa yang banyak tumbuh di daerah ini. Nama Lamajang diperkirakan berasal dari kata pohon laja yang berarti pohon laos yang banyak tumbuh di daerah ini. Hal ini masih bisa dilihat dengan jelas karena untuk menyebut buah laja secara halus masyarakat menyebutnya dengan kata Lumaos.

Berbicara tentang Lumajang sendiri sebenarnya tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan Gunung Semeru. Daerah Lumajang yang terletak di timur Gunung Semeru merupakan daerah aliran lahar dan banjir yang ditimpakan oleh gunung berapi tersebut jika meletus. Karena letusan Gunung Semeru ini, maka daerah Lumajang mempunyai tanah yang subur dan berbeda dengan daerah lainnya seperti Malang yang terletak di barat Gunung Semeru. Kesuburan ini merupakan suatu berkah dari arwah nenek moyang yang ada di Gunung Semeru sehingga ada hubungan timbal balik antara pemahaman material maupun spiritual dari asal nama Lumajang tersebut. ( rabi)